
Potret Hermann Willem Daendels
Sumber: KITLV
Sebelum membaca ini, alangkah baiknya membaca part I terlebih dahulu.
VOC telah
runtuh. Namun, apakah berakhirnya VOC juga berarti berakhirnya kekuasaan
Belanda di Indonesia?
Selama hampir
dua abad, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menjadi salah satu kekuatan
politik dan ekonomi terbesar di Nusantara. Perusahaan dagang yang didirikan
pada 1602 tersebut tidak hanya menjalankan aktivitas perdagangan, tetapi juga
memperoleh hak untuk membuat perjanjian, membentuk pasukan, membangun benteng,
mencetak uang, dan menjalankan pemerintahan di wilayah yang dikuasainya.
Namun, kejayaan
tersebut perlahan mengalami kemunduran. Korupsi, biaya peperangan yang besar,
persaingan perdagangan, penyelundupan, serta beban utang membuat VOC kehilangan
kemampuan untuk mempertahankan kekuasaannya. Pada 31 Desember 1799, VOC
secara resmi berakhir dan urusan perusahaan yang telah bangkrut itu kemudian
diambil alih oleh pemerintahan baru di Belanda.
Akan tetapi,
ada satu hal penting yang perlu dipahami: VOC memang bangkrut, tetapi
kepentingan kolonial Belanda di Nusantara tidak ikut bangkrut.
Justru setelah
VOC berakhir, terjadi perubahan besar dalam sejarah kolonialisme di Indonesia.
Kekuasaan yang sebelumnya dijalankan oleh sebuah perusahaan dagang perlahan
berubah menjadi pemerintahan kolonial yang lebih terpusat. Dalam perkembangan
berikutnya, Jawa bahkan menjadi bagian dari pertarungan geopolitik antara
Belanda, Perancis, dan Inggris.
Dari Perusahaan Dagang Menjadi Pemerintahan Kolonial
Runtuhnya VOC
pada 1799 tidak terjadi dalam ruang politik yang terpisah dari perkembangan
Eropa. Pada saat VOC dibubarkan, Eropa sedang mengalami perubahan besar akibat Revolusi
Prancis (1789) dan peperangan yang kemudian melibatkan hampir seluruh
kekuatan besar Eropa.
Perubahan
politik tersebut secara perlahan mengubah posisi Belanda.
Jika pada masa
sebelumnya Belanda merupakan salah satu kekuatan maritim dan perdagangan
penting di Eropa, pada akhir abad ke-18 negara tersebut justru menghadapi
tekanan dari kekuatan Prancis yang semakin besar. Pada 1795, pasukan Prancis
memasuki wilayah Belanda dan menyebabkan runtuhnya pemerintahan Republik
Belanda lama. Peristiwa tersebut kemudian melahirkan Republik Batavia/Bataaf (Bataafse
Republiek), sebuah negara yang secara politik sangat dipengaruhi oleh
Prancis.
Perubahan
tersebut penting bagi sejarah Indonesia karena wilayah jajahan Belanda,
termasuk Hindia Timur, akhirnya ikut terseret ke dalam persaingan kekuatan
Eropa.
Dengan
demikian, setelah VOC berakhir, persoalan di Nusantara tidak lagi hanya
berkaitan dengan perdagangan.
Hindia Timur
mulai menjadi bagian dari pertarungan geopolitik Eropa.
Dari Republik Belanda menjadi Republik Batavia
Sebelum 1795, Belanda dikenal sebagai Republik Tujuh Provinsi Bersatu (Dutch Republic). Negara tersebut memiliki sistem politik yang relatif unik karena tidak berbentuk kerajaan. Kekuasaan politik terbagi di antara berbagai provinsi dan lembaga pemerintahan, dengan posisi Stadtholder yang sangat penting.
Namun, sistem tersebut mengalami tekanan pada akhir abad ke-18.
Revolusi Prancis yang dimulai pada 1789 menghasilkan perubahan besar dalam politik Eropa. Prancis tidak hanya mengalami perubahan pemerintahan di dalam negeri, tetapi juga terlibat dalam peperangan dengan berbagai kerajaan Eropa.
Pada 1792, Prancis berperang melawan Austria dan Prusia. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian perang yang dikenal sebagai Perang Revolusioner Prancis.
Belanda pada awalnya berusaha mempertahankan posisinya, tetapi pada 1795 keadaan berubah.
Pasukan Prancis memasuki wilayah Belanda. Kelompok politik Belanda yang dikenal sebagai Patriot—yang terpengaruh oleh gagasan Revolusi Prancis—mendukung perubahan sistem politik.
Akibatnya, pemerintahan lama runtuh.
Pada 1795 berdirilah Republik Batavia/Bataaf.
Nama “Batavia” dalam konteks ini bukan merujuk kepada kota Batavia di Jawa, melainkan merupakan nama yang digunakan untuk negara baru di Belanda. Nama tersebut berasal dari bangsa Batavia, kelompok yang secara historis dikaitkan dengan wilayah Belanda.
Republik Batavia kemudian menjadi sekutu Prancis. Namun, hubungan tersebut tidak sepenuhnya setara. Prancis memiliki pengaruh politik, militer, dan ekonomi yang sangat kuat terhadap republik baru tersebut.
Daendels
Pada 1806, Raja Lodewijk Napoleon (adik laki-laki Napoleon I , Kaisar Prancis . Ia adalah seorang raja yang berkuasa penuh dari tahun 1806-1810) mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal Hindia Timur. Pengangkatan tersebut dilakukan dalam situasi ketika ancaman Inggris terhadap Jawa semakin besar. Daendels tiba di Batavia pada 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur Jenderal Albertus Wiese. Ia kemudian menjalankan berbagai kebijakan untuk memperkuat pertahanan Jawa, antara lain membentuk dan menata kembali pasukan, membangun jaringan jalan, serta melakukan pembenahan terhadap sistem administrasi pemerintahan di pulau tersebut.
Herman Willem
Daendels menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Timur di Jawa. Daendels
dikirim untuk memperkuat pertahanan Jawa terhadap kemungkinan invasi Inggris
yang masuk. Dia tiba di kota Batavia (kini Jakarta) pada 5 Januari 1808 dan
menggantikan mantan Gubernur Jenderal Albertus Wiese.
Ketika tiba di
Batavia pada Januari 1808, Daendels membawa mandat tunggal yang sangat berat,
yaitu mempertahankan Pulau Jawa dari serangan militer Inggris sekaligus
merombak total sistem administrasi yang bobrok pasca-VOC. Dipengaruhi oleh
latar belakangnya sebagai aktivis kelompok Patriot Belanda dan prinsip-prinsip
Revolusi Prancis, Daendels memandang struktur feodal di Jawa sebagai hambatan
besar bagi efisiensi pemerintahan. Ia segera mengambil langkah-langkah drastis
yang merombak tatanan sosial, politik, dan ekonomi wilayah tersebut secara
mendasar.
Langkah
monumental sekaligus paling kontroversial dari pemerintahannya adalah
pembangunan De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos yang membentang sekitar
1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan. Pembangunan jalan ini dirancang
sebagai jalur mobilisasi cepat bagi pasukan militer, pengiriman logistik, dan
percepatan jalur komunikasi antarwilayah. Di bawah komando Daendels yang tanpa
kompromi, proyek megah ini mengandalkan sistem pengerahan tenaga kerja paksa (herrendiensten
atau kerja rodi). Ribuan rakyat pribumi dikerahkan untuk membelah hutan,
menerobos perbukitan batu, dan menerjang rawa-rawa endemik malaria. Tanpa
pasokan logistik yang memadai dan pengawasan medis yang layak, proyek ini
memakan ribuan korban jiwa akibat keletihan, kelaparan, dan penyakit,
meninggalkan luka mendalam dalam memori kolektif masyarakat Jawa.
Di bidang
birokrasi dan politik, Daendels menghancurkan tatanan feodalisme tradisional.
Ia membagi Jawa menjadi sembilan wilayah administratif (prefectuur) yang
dipimpin oleh seorang pejabat Eropa (prefek). Para bupati yang
sebelumnya berkedudukan sebagai penguasa lokal berdaulat diturunkan statusnya
menjadi pegawai pemerintah kolonial (ambtenaar) yang digaji dan berada
di bawah komando militer. Sikap Daendels yang memangkas etiket kerajaan—seperti
menolak tunduk pada tradisi penyerahan hormat di istana—memicu ketegangan hebat
dengan raja-raja Jawa. Konflik ini berujung pada tindakan militer keras
terhadap Kesultanan Banten hingga pembubarannya, serta intervensi politik yang
tajam terhadap Kesultanan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengkubuwono II.
Sisi ekonomi
masa pemerintahan Daendels dicirikan oleh upaya membendung krisis keuangan yang
parah. Terisolasi dari Eropa akibat blokade armada laut Inggris, Daendels
menerapkan penyerahan wajib komoditas pertanian secara ketat, khususnya melalui
sistem tanam kopi (Koffiestelsel). Untuk menutup defisit kas negara, ia
mengambil langkah radikal dengan menjual tanah-tanah negara beserta penduduk
yang tinggal di atasnya kepada para pemodal swasta Eropa dan Tionghoa, yang
kemudian melahirkan sistem tanah partikelir. Ia juga menjadi penguasa pertama
di Jawa yang menerbitkan uang kertas (papiergeld) untuk mengatasi
kelangkaan koin logam mulia, meski kebijakan ini berakhir memicu inflasi
tinggi.
Meskipun
Daendels berhasil meletakkan fondasi birokrasi negara kolonial modern yang
terpusat dan efisien, gaya kepemimpinannya yang otoriter, keras, dan cenderung
diktator—hingga ia dijuluki De Kleine Napoleon (Napoleon Kecil)—memicu penolakan tidak hanya dari kalangan pribumi dan
bangsawan lokal, tetapi juga dari kalangan internal pejabat Belanda sendiri.
Khawatir
tindakan Daendels yang terlalu keras justru memicu pemberontakan dalam negeri
saat ancaman Inggris kian dekat, Napoleon Bonaparte memanggilnya kembali ke
Eropa pada Mei 1811. Posisinya digantikan oleh Jan Willem Janssens. Namun,
pembenahan yang dilakukan Daendels tidak cukup untuk menahan gelombang invasi
Inggris. Hanya beberapa bulan setelah kepindahan Daendels, pasukan Inggris
mendarat di Jawa dan memaksa Janssens menandatangani Kapitulasi Tuntang pada
September 1811, yang menandai berakhirnya kekuasaan singkat Prancis-Belanda di
Hindia Belanda.
Kerja Paksa Daendels
Pelaksanaan
kerja paksa—atau yang lebih dikenal dalam catatan sejarah sebagai herrendiensten
(dinas feodal) dan kerja rodi—menjadi cermin paling kelam dari kediktatoran
Herman Willem Daendels di Pulau Jawa. Di bawah panji rasionalisasi dan
pertahanan militer, kebijakan ini diubah dari sekadar kewajiban adat
tradisional yang terbatas menjadi mesin mobilisasi massa berpusat pada negara,
yang dijalankan tanpa memedulikan batas kemampuan fisik manusia.
Titik puncak
dari brutalitas kerja paksa ini terwujud dalam proyek pembangunan Jalan Raya
Pos (De Grote Postweg). Demi memangkas waktu tempuh perjalanan dari
berminggu-minggu menjadi hitungan hari, Daendels memerintahkan para prefek
dan bupati lokal untuk mengerahkan ratusan ribu penduduk desa. Laki-laki
pribumi dicabut dari sawah dan keluarganya, lalu dikirim ke medan-medan berat
yang terisolasi. Tanpa peralatan modern, mereka meratakan tanah, membelah
lereng gunung batu dengan cangkul dan linggis seadanya, serta menimbun
rawa-rawa yang berbahaya.
Kondisi kerja
di lapangan berlangsung sangat tidak manusiawi. Para pekerja paksa dipaksa
membanting tulang dari fajar hingga petang di bawah sengatan matahari dan
guyuran hujan deras. Sistem pasokan logistik yang dirancang sangat buruk
membuat ribuan buruh mengalami kelaparan parah. Makanan yang disediakan sering
kali hanya berupa beras kualitas buruk dalam jumlah yang jauh dari cukup untuk
menopang kerja fisik berat.
Dampak dari
pengabaian ini adalah merebaknya wabah penyakit secara masif. Di
wilayah-wilayah bersuhu lembap dan berawa seperti Megamendung, Sumedang
(terutama kawasan pengerjaan Cadas Pangeran yang terjal), hingga pesisir timur
Jawa, penyakit malaria dan disentri menyerang tanpa ampun. Tubuh para pekerja
yang sudah terlanjur lemah karena kurang gizi tak mampu bertahan; kematian demi
kematian terjadi setiap hari di sepanjang jalur pengerjaan. Karena tidak adanya
penanganan medis dan sarana pemakaman yang layak, tak sedikit pekerja yang
roboh dan mengembuskan napas terakhir tepat di tepi jalan yang sedang mereka
bangun.
Kebijakan kerja
paksa ini tidak hanya diterapkan pada pembangunan jalan utama. Daendels juga
memobilisasi tenaga rakyat untuk membendung sungai, mendirikan benteng-benteng
pertahanan seperti Benteng Lodewijk di Gresik, membangun pelabuhan militer di
Ujung Kulon yang sangat mematikan akibat penyakit tropis, serta menggarap
perkebunan-perkebunan kopi milik pemerintah (Koffiestelsel).
Sifat
eksploitatif dari kerja rodi era Daendels membawa guncangan sosial-ekonomi yang
dahsyat bagi kehidupan pedesaan di Jawa. Ditinggalkannya sektor pertanian
akibat pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran memicu krisis pangan dan
kelaparan hebat di berbagai daerah, seperti Demak dan Cirebon. Penderitaan yang
menumpuk ini menjelma menjadi trauma sejarah yang mendalam, menciptakan
penderitaan luar biasa bagi rakyat pribumi sekaligus mengabadikan nama Daendels
sebagai simbol kesewenang-wenangan penguasa kolonial.
Sumber:
Colenbrander, H. T. (Ed.).
(1909–1910). Gedenkstukken der algemeene geschiedenis van Nederland van 1795
tot 1840. Deel 5: Koning Lodewijk, 1806–1810. Den Haag.
Ricklefs, M. C. (2008). A
History of Modern Indonesia Since c. 1200 (4th ed.). Basingstoke: Palgrave
Macmillan.
Raffles, Thomas Stamford. (1817).
The History of Java. London: Black, Parbury, and Allen.
Van der Burg, Martijn. (2009). Nederland
onder Franse invloed: Culturele overdracht en staatsvorming in de
Napoleontische tijd, 1799–1813. Amsterdam.
Persée. (1972). Les archives
françaises au service des études indonésiennes: Java sous Daendels (1808–1811).
DBNL. Staat der Nederlandsche
Oostindische Bezittingen, onder het bestuur van den Gouverneur Generaal Herman
Willem Daendels.


.jpg)
0 Comments